Urbanisasi bukan lagi solusi tunggal bagi talenta muda dalam mencari kemapanan ekonomi.
Potensi penciptaan lapangan kerja seharusnya bisa tercipta di lingkungan sendiri dengan menggali kekuatan lokal yang berkelanjutan.
Di tengah dorongan global menuju emisi nol bersih, Indonesia kini menghadapi tantangan besar untuk memastikan transisi energi tidak hanya menjadi pergeseran teknologi, tetapi juga momentum untuk menciptakan lapangan kerja yang adil dan inklusif di daerah.
Menjawab urgensi tersebut, sebuah konsorsium lintas organisasi resmi meluncurkan Green Jobs Fest 2026 bertajuk The Green Skill Shift: Future-Proof Careers Start with Local Green Potentials yang akan menyapa talenta muda di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya sepanjang bulan April 2026.
Manajer Komunikasi dan Kampanye Koaksi Indonesia, Fitrianti Sofyan mengatakan upaya ini berakar pada evaluasi mendalam terhadap ekosistem tenaga kerja hijau di Indonesia.
Harapannya, kegiatan ini bisa menjadi medium untuk menemukan dan mengenali ekosistem green jobs yang ada di masing-masing lokasi kegiatan.
“Green Jobs Fest 2026 dirancang sebagai ruang untuk mengenali potensi terdekat dan meningkatkan green skill bagi siapa saja yang ingin berkontribusi pada pembangunan yang berkelanjutan melalui pekerjaan hijau,” ungkap Fitrianti.
Visi penyelarasan kompetensi tersebut diperluas oleh Seasoldier yang menyoroti sektor lingkungan spesifik sebagai peluang profesi baru.
“Pemulihan ekosistem laut dan darat bukan sekadar aksi lingkungan, melainkan peluang profesi yang besar. Masa depan membutuhkan talenta yang mampu memadukan keahlian teknis dengan nilai konservasi,” tegas Dia.
Dinni Septianingrum Founder Seasoldier mengatakan kebutuhan akan standar profesional baru ini dijembatani oleh Teens Go Green yang fokus menyediakan ‘kompas’ bagi Generasi Z agar mereka tidak salah arah.
“Generasi Z memiliki kepedulian lingkungan yang tinggi, namun sering kali kehilangan arah karier. Kami hadir untuk menjembatani semangat tersebut menjadi jalur karier hijau yang konkret dan kompetitif,” ungkap Bambang Sutrisno, Co-Founder Teens Go Green
Semangat ini pun dibawa ke tingkat akar rumput oleh Earth Hour Yogyakarta untuk memastikan keberlanjutan ekonomi di daerah.
Menurut Resa Fondania selaku Koordinator Earth Hour Jogja, kesejahteraan tidak harus dicari di kota besar.
“Dengan menggali potensi lokal dan ekonomi restoratif di setiap daerah, talenta muda bisa melahirkan inovasi berbasis komunitas yang menggerakkan ekonomi lokal,” tandas Resa.
Melengkapi seluruh rangkaian narasi tersebut, Eulis Utami, Direktur Hutan Itu Indonesia, menegaskan bahwa keberhasilan transisi ini membutuhkan kolaborasi lintas disiplin ilmu.
“Menjaga hutan adalah tugas rimbawan hingga ahli hukum. Peran nonteknis seperti komunikator bahkan desainer grafis pun sangat krusial untuk melindungi alam melalui sudut pandang kreatif dan kebijakan,” jelasnya.
Demi mewujudkan visi tersebut, akan dilaksanakan empat acara kunci yang dikemas secara terintegrasi.
Dimulai dengan Green Talk sebagai ruang diskusi interaktif tentang isu keberlanjutan. Kemudian, ada Green Workshop & Coaching Clinic yang menawarkan rangkaian sesi pengembangan kapasitas bersama praktisi ahli.
Sesi ini mencakup pelatihan keterampilan terstruktur yang aplikatif untuk sektor hijau maupun bimbingan intensif personal untuk mengasah strategi karier dan penerapan green skills secara mendalam.
Selain itu, terdapat pula area Booth sebagai ruang interaktif bagi talenta muda untuk terhubung langsung dengan aktor ekosistem green jobs, serta ditutup dengan Music & Art Performance yang menghadirkan musisi lokal dan karya seni bertema keberlanjutan.
Rangkaian Green Jobs Fest 2026 ini dilaksanakan di beberapa titik strategis, yaitu 18 April 2026 di BBPVP Bandung dan Gedung AMEC Universitas Airlangga, Surabaya; 25 Oktober 2026 di CIBIS Park Jakarta; dan 26 April 2026 di JNM Bloc Yogyakarta.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat partisipasi orang muda dalam menyongsong transisi ekonomi hijau yang stabil, adil, dan merata di seluruh Indonesia.*
Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto
