Jumat, 20 Maret 2026, Pukul, 20.00 Wita, malam hari suasana di Kantor Bupati Flores Timur tampak berbeda dari biasanya.
Ratusan anak-anak memenuhi halaman depan kantor bupati. Para pria mengenakan songkok dan sarung aneka motif.
Sedangkan, wanita mengenakan mukena. Di tangan, memegang obor dan lampion warna-warni.
Mereka adalah Remaja Masjid di Kota Larantuka. Anak-anak paruh baya ini akan melaksanakan pawai obor menyambut hari puncak kemenangan pada perayaan Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah.
Ketua Panitia Pelaksana Pawai Obor, Adam Bethan mengungkapkan skema pawai obor ini baru perdana kali dilakukan di Kota Larantuka.
Dimana, kata Adam pada tahun-tahun sebelumnya pawai obor dilakukan di wilayah masjid masing-masing.
“Tahun ini perdana. Sebelumnya pawai obor hanya kita lakukan di wilayah masjid masing-masing,” ungkap Adam.
Adam menjelaskan para peserta yang mengikuti pawai obor ini merupakan utusan dari 4 masjid di Kota Larantuka yakni Remaja Masjid Agung Syuhada Ekasapta, Masjid Al-Amin Weri, Masjid As-Samad Postoh dan Masjid Al-Mujahidin Puken Tobi Wangi Bao.
“Setiap masjid mengirimkan wakilnya sekitar 30 hingga 50 orang. Jadi kurang lebih sekitar 200 peserta remaja masjid yang ikut pawai obor ini,” ungkap Adam.
Para peserta kata Adam, melakukan long march kurang lebih 3 kilometer melintasi jalan Basuki Rahmat. Titik start di Kantor Bupati, kemudian berjalan menuju masjid Postoh dan kembali menuju masjid Ekasapta.
Adam berharap melalui pawai obor ini, sukacita hari raya Idulfitri dapat memberikan kedamaian bagi warga di Kota Larantuka.
“Idulfitri adalah hari kemenangan. Hari kegembiraan. Semoga, menjadi berkat dan kedamaian bagi warga Flores Timur,” ungkap Adam.
Akar Budaya Sebagai Simbol Pemersatu
Suasana kota yang dijuluki sebagai kota Bunda Maria ini tampak ramai dan larut dalam suasana kegembiraan.
Tak hanya, umat Muslim. Umat Katolik, agama mayoritas Kota Larantuka juga berbondong-bondong turun ke pinggir jalan menyaksikan pawai obor ini.
Bagi, warga Kota Larantuka ini adalah ekspresi persaudaraan dan kekeluargaan.
“Umat Muslim adalah saudara. Sekalipun kita berbeda keyakinan tapi kita saudara di atas Bumi Lamaholot,” ungkap Helen Dasilva.
“Rasa persaudaraan itu tumbuh ketika kita mengenal akar dari budaya kita yakni sebagai orang Lamaholot,” tambah Helen.
Ekspresi kegembiraan terpancar dari wajah putra dan putri paruh bayah dari keempat masjid tersebut.
Sepanjang perjalanan, anak-anak remaja masjid Kota Larantuka terus memuliakan Kebesaran Allah SWT dengan gema takbir.
Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto
