Satu unit pelabuhan rakyat (pelra) dan ruas jalan Pantai Utara (Pantura) sepanjang 1 kilometer (km) di Pulau Palue, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, NTT, ambruk.
Sudah empat tahun, pelra dan jalan ambruk itu tidak diperbaiki. Pelra yang ambruk tersebut adalah pelabuhan rakyat Oti Oa Ramba Lengge di Desa Maluriwu.
Boy Langko, warga Desa Nitung Lea mengatakan, pelabuhan tersebut perlahan rusak sejak bulan Maret 2021 lalu. Kini, sudah ambruk akibat gelombang tinggi, pada tahun 2025 lalu.
“Ini merupakan satu-satunya pelabuhan rakyat yang ada di Pulau Palue yang digunakan sejumlah kapal penumpang untuk mengangkut warga yang hendak ke Kota Maumere atau sebaliknya,” kata Boy kepada Kaddes.net Rabu, 4 Maret 2026.
Kata Boy, akibat gelompang pasang yang terjadi setiap tahun, pelabuhan ini sudah tidak bisa digunakan lagi sebagai tempat kapal sandar untuk mengangkut penumpang maupun hasil komodi warga yang hendak dipasarkan ke kota Maumere.
“Jika hendak naik kapal, warga tepaksa menumpang perahu kecil yang disediakan guna menuju perahu motor. Memang ada pelabuhan besar untuk kapal besar sandar, namun jika kondisi gelombang kencang kadang membuat kapal terombang ambing,” keluhnya.
Selain pelra, lanjut Boy, ruas jalan pantura sepanjang 1 km yang membentang dari Kantor Camat Palue hingga depan Kantor Polsek Palue pun dalam kondisi rusak berat, akibat abrasi pantai.
“Sepanjang ruas jalan ini, ada sejumlah fasilitas publik seperti kantor camat, SD dan SMP yang sebagian bangunannya pun mulai terancam akibat abrasi,” paparnya.
Pemerintah Kabupaten Sikka diharapkan bisa merespon kondisi infrastruktur yang telah rusak. Palue merupakan salah satu kecamatan yang masuk dalam kategori kawasan 3T.
“Kami masyarakat Palue sangat berharap pemerintah bisa melihat dan membangun kembali pelabuhan rakyat dan jalan yang rusak, agar warga bisa aman dalam aktivitas pelayaran maupun perjalanan melewati jalur tersebut,” harap Boy.
Camat Palue, Rudolfus Riba, kepada Kaddes.net Rabu, 4 Maret 2026, membenarkan ambruknya Pelra dan putusnya ruas jalan Pantura sejauh 1 km di Pulau Palue.
Ia menuturkan, Kecamatan Palue berada di Pulau Palue dengan 8 desa. Selain masih minim dalam infrastruktur juga sebagian besar sarana dan prasarana telah rusak akibat bencana.
Kondisi ini telah disampaikan resmi ke dinas terkait, seperti BPBD, Dinas Perhubungan dan Dinas Pekerjaan Umum namun belum mendapat respon tindaklanjuti dengan memperbaki fasilitas publik yang rusak.
“Kerusakan pelabuhan rakyat dan jalan ini misalnya, sejak 4 tahun lalu kita sudah bersurat dengan memberikan laporan kejadian bencana disertai dokumentasi ke kabupaten melalui BPBD dan Dinas PU namun belum ada realisasi,” kata Rudolfus. *
Penulis: Tata Shinto
