Kondisi bangunan Hunian Sementara (Huntara) IV korban erupsi Gunung Lewotobi laki-laki di Desa Konga, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), sangat memprihatinkan.
Disaksikan Kaddes.net Senin, 26 Januari 2026, pada setiap kopel yang diperuntukkan bagi penyintas asal Desa Nobo memiliki kerusakan beragam. Mulai dari komponen pintu, jendela, dinding kamar, dan atap.
Tak hanya itu, lima kopel pada lokasi Huntara IV tersebut terancam roboh akibat pergerakan tanah yang terkikis oleh air.
Maria Pusun Muda, warga Desa Nobo kepada media ini mengatakan kualitas bahan bangunan huntara IV sangat buruk ketimbang Huntara I dan II.
Maria mengatakan tripleks dan aluminium bangunan Huntara sangat tipis. Pintu, jendela, dan dinding terlepas akibat angina kencang yang terjadi pada penghujung tahun 2025. Dimana, kerusakan ini terjadi sebelum warga menempati kopel tersebut.
“Saya bersama suami terpaksa mengikat daun pintu terbuat dari tripleks dengan tali rafia. Kualitas material Huntara 4 buruk sekali, berbeda pada Huntara 1 dan 2,” ungkap Maria.
Selain itu, Elisabet Ohe Bean menuturkan atap pada bagian kamar yang ditempati dirinya bersama keluarga bocor akibat robekan zincalume (spandek).
Elisabet bilang, saat hujan Ia bersama Ibunya, terpaksa menada tirisan hujan yang menembusi spandek dengan beberapa wadah penampung.
“Tak cuma tujuh lubang, tirisan hujan pun masuk ke kamar lewat sambungan spandek. Sangat susah bila terjadi hujan,” tutur Elisabet.
Pantauan Kaddes.net, Senin 26 Januari 2026, beberapa hunian lain terlihat lubang besar telah menganga pada sisi dinding dan lantai dasar pada kamar serta toilet.
Beberapa daun pintu kamar, jendela, dan toilet terlepas dari hengsel pintu. Beberapa pintu tergantung dan daun pintu lainnya dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai.
Beberapa atap Huntara di sejumlah kopel, terlihat timbunan ban mobil serta material pemberat lainnya yang sengaja diletakkan warga untuk menahan agar atap tidak terbang saat angin kencang.
Selain itu, beberapa lantai kamar terlihat pecah karena dasar tanah tumpang pada beberapa kopel mengalami pergerakan akibat terkikis air hujan. * (Tim Redaksi).
