Cerita Pasutri Lansia di Sikka Mengais Rejeki Usai Sholat Idulfitri

Pasangan lanjut usia sedang mengumpulkan sampah (Foto: Tata Shinto/Kaddes.net)

Mengenakan baju oranye dengan celana pendek, Yulianus Marung Sadipun, lansia berusia 69 tahun sibuk memungut koran dan kardus bekas di lapangan umum Kota Baru Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu, 21 Maret 2026 pagi.

Koran dan kardus bekas dikumpulkan Yulius usai ribuan umat Islam menunaikan Sholat Ied, merayakan hari Idulfitri 1447 Hijriah.

Yulianus tidak sendirian. Ia ditemani Eustakia Kostoria, wanita lansia berusia 68 tahun. Mereka pasangan suami istri yang tinggal di kompleks Cemara Sentrum, Kelurahan Nangameting.

Keduanya membagi tugas. Yulianus memungut koran dan kardus bekas, sementara Eustakia dengan karung plastik ditangan memungut gelas plastik air mineral bekas.

Mereka lalu mengumpulkan hasil pungutan sampah ini menjadi satu tumpukan yang cukup banyak.

“Ini tidak saja membantu bersihkan sampah, namun kami manfaatkan untuk mendapatkan uang dari sini,” ungkap Yulianus kepada Kaddes.net di sela mengumpulkan sampah.

Ribuan umat muslim di Kota Maumere sedang menunaikan Sholat Ied

Ia menuturkan, sampah-sampah ini akan dijual ke pengusaha barang bekas. Hasilnya, dipergunakan untuk membiayai kehidupan keduanya yang tengah memasuki usia senja.

“Koran dan kardus ini harganya Rp. 1.000,-per kilo. Hasil jual nantinya kami gunakan untuk beli beras dan ikan,” tutur dia seraya terus memasukkan kardus ke dalam karung.

Kedua pasutri ini menitipkan pesan agar tidak malu membersihkan sampah yang ada di lingkungan sekitar. Pasalnya, dibalik sampah yang terlihat kotor dan jorok, ada nilai ekonomi yang didapati.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Cabang Sikka mengatakan ungkapan terima kasih untuk kedua lansia yang turun membantu panitia membersihkan lapangan usai sholat ied.

“Terima kasih untuk bapa dan mama yang sudah membantu panitia membersihkan sampah usai umat Islam menggelar ibadah idulfitri di lapangan ini,” ungkap Muhammad Daeng Bakir.

Menurut Daeng Bakir, yang dilakukan Yulianus dan Eustokia merupakan bentuk toleransi yang selama ini terdalam dalam diri masyarakat kabupaten Sikka.

“Sadar atau tidak, yang dilakukan pasutri ini merupakan bentuk toleransi diantara kami masyarakat nian tanah. Di hari yang fitri ini, kami pun mohon maaf lahir batin untuk kita,” tuturnya penuh haru.*

Penulis: Tata Shinto I Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *