Kembangkan pelajaran Muatan Lokal (Mukol) kreativitas berbasis produk lokal, siswa SMK Negeri Habibola, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, hasilkan aneka Mebeler seperti meja, kursi, lemari yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta ramah lingkungan melalui program Bamboo Goes to School.
Selama pelatihan yang dipandu Sebastianus Leo yang akrab disapa Nano, peserta tidak hanya memperoleh materi tentang jenis, manfaat, dan potensi bambu.
Tetapi juga praktik langsung proses pembuatan furnitur berbahan bambu, mulai dari mengukur, memotong, merancang desain, merakit, memasang, mengikat hingga tahap akhir menggunakan vernis.
Kepala Sekolah SMKN Habibola, Angelinus Heni mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Bamboo Goes to School.
Program tersebut diinisiasi oleh Yayasan Bambu Lestari Lingkungan (YBLL) bekerja sama dengan pihak sekolah dan diikuti 32 siswa dan 17 guru.
“Pelatihan langsung mengolah bambu tidak hanya mengasah kreatifitas anak, tetapi juga menanamkan karakter peduli lingkungan berbasis kearifan lokal,” katanya Rabu pekan lalu.
“Dan akan terus dilakukan karena masuk dalam jadwal pelajaran (mulok kreativitas berbahan dasar bambu. Ini bekal luar biasa bagi mereka.”
Menurut dia, pelatihan ini dapat meningkatkan ketrampilan dan kreativitas siswa, menumbuhkan jiwa wirausaha dengan memanfaatkan bambu, serta mendukung pengembangan karakter.
Koordinator Kabupaten YBLL, Yuyun Darti Baetal mengatakan program Bamboo Goes to School bukan sekadar menghadirkan bambu ke lingkungan sekolah.
Namun merupakan bentuk pendidikan kontekstual yang mengintegrasikan aspek lingkungan, budaya, dan kewirausahaan.
Selama ini, papar Yuyun, bambu masih sering dipandang sebagai material kelas dua yang identik dengan kemiskinan atau hanya digunakan sebagai bahan bangunan sementara.
Padahal, melalui inovasi dan pengolahan yang tepat, bambu memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu menjadi material masa depan yang ramah lingkungan.
“Kami ingin mengubah cara pandang generasi muda terhadap bambu. Anak-anak perlu memahami bahwa bambu bukan sekadar tanaman biasa, tetapi memiliki nilai ekonomi, estetika, dan berperan penting menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, SMKN Habibola dipilih sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan lantaran memiliki dua program keahlian, yaitu Pertanian dan Pariwisata, serta memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat pembelajaran berbasis sumber daya lokal.
“Di samping itu, kondisi sarana dan prasarana yang masih terbatas menjadi salah satu pertimbangan agar sekolah memperoleh pendampingan dalam mengembangkan pembelajaran berbasis praktik dan keterampilan,” terangnya.
Yuyun menegaskan, tujuan utama kegiatan tersebut bukan hanya mengajarkan teknik membuat furnitur.
Tetapi juga membentuk karakter peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan, bangga terhadap budaya lokal, serta memiliki keterampilan hidup yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan pendidikan.
“Bagi kami, pendidikan bukan hanya menghasilkan anak yang unggul secara akademik, tetapi juga melahirkan generasi yang mandiri, kreatif, dan mampu melihat peluang usaha dari potensi yang ada di sekitarnya,” katanya.
Menurut Yuyun, para siswa tidak saja menunjukkan semangat saat praktik membuat meja, kursi, dan lemari berbahan bambu. Namun juga memiliki bakat yang dapat terus dikembangkan melalui pembinaan berkelanjutan.
“Ke depan, Yayasan berencana melanjutkan kolaborasi dengan pihak sekolah melalui pengembangan sekolah lapang pembibitan bambu, penanaman bambu, hingga pembentukan kebun sekolah sebagai media pembelajaran,” ujar Yuyun.*
Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint
