Menakar Kiprah Bulog Larantuka Dari Sosialisasi Hingga Serap Hasil Panen Petani di Flores Timur

Mustafa Suhut, Kepala Perum Bulog, Kantor Cabang Flores Timur

Para petani di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai menyadari untuk menghasilkan Jagung dan Padi yang berkualitas.

Kesadaran ini dapat  terlihat dalam pola pengolahan hasil panen Jagung dan Padi petani-petani di Desa Gerong, Kecamatan Titehena, Kecamatan Ile Boleng dan Tanjung Bunga.

Berkat pemahaman produk jagung yang berkualitas, panen Jagung dan Padi yang dihasilkan oleh para petani ini, diserap dengan harga tinggi oleh Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Cabang Flores Timur.

“Jagung kami serap dari petani dengan harga Rp6.400 per kilo,” ungkap Mustafa Suhut, Kepala Perum Bulog, Kantor Cabang Flores Timur kepada Kaddes.net pada Senin, 13 Juli 2026 di ruang kerjanya. 

Harga ini, kata Mustafa sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk komoditas jagung. Harga ini, lebih tinggi ketimbang harga jagung di pasar, dimana dijual dengan harga Rp.5.000 per kilo gram.

Mustafa menegaskan Bulog Flores Timur mendorong para petani Flores Timur agar hasil panen jagung dapat terjamin kualitasnya.

“Hasil pertanian seperti jagung di Flores Timur sudah sangat bisa diandalkan. Dimana, para petani dapat menghasilkan Jagung  dengan kadar air 14 persen. Itu adalah standar yang bagus,” ujar Mustafa.

Bulog Bangun Kemitraan dengan Petani

Mustafa menjelaskan pihaknya terus membangun kemitraan dengan para petani di Flores Timur, melalui sosialisasi tentang bagaimana cara menghasilkan kualitas panen Jagung yang baik.

Ia menjelaskan bahwa ternyata masih banyak petani yang belum paham bagaimana cara pengolahan hasil panen jagung yang berkualitas.

“Mulai dari lamanya waktu dan bagaimana caranya menjemur dengan lantai jemur yang teratur. Masyarakat kita, masih terpola dengan menjemur pakai jaring. Hasilnya, kadar air tidak mencapai 14 persen dan para petani menjual jagung dengan harga apa adanya,” ungkap Mustafa.

Pihaknya, kata dia, setelah melalui sosialisasi di desa-desa, para petani akhirnya memahami bagaimana mengolah hasil panen Jagung dengan kadar air 14 persen.

“Bahkan, ada yang kadar airnya di bawah 14 persen. Ada yang 13 persen dan ada yang 12 persen”, jelas Mustafa.

Lumbung Pangan Kuat

Sejak Mei 2026, Perum Bulog Kantor Cabang Flores Timur telah menyerap 115 ton jagung dari petani lokal.

Mustafa menyebut angka ini melampaui target awal yang hanya 100 ton.

“Setiap kali distribusi, jumlahnya bisa tembus 12 ton,” ujarnya.

Jagung yang masuk ke gudang Bulog sebagian besar dialokasikan untuk pakan ternak.

Namun, Mustafa menegaskan pihaknya masih menunggu arahan dari pusat terkait program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHPK).

Selain jagung, Bulog Flores Timur juga menerima beras dengan harga Rp12.000 per kilo.

Sedangkan gabah dihargai Rp6.500 per kilo, meski di lapangan petani lebih memilih menjual dalam bentuk beras.

Mustafa berkeyakinan dengan pasokan yang stabil, Flores Timur berpotensi menjadi salah satu daerah penopang pangan di Nusa Tenggara Timur.

“Kami optimis, dengan dukungan petani dan kebijakan pemerintah, Flores Timur bisa menjadi lumbung pangan yang kuat,” ungkap Mustafa.

Meski stok melimpah, Bulog Flores Timur masih menunggu instruksi lebih lanjut dari pusat.

“Program ini biasanya ditujukan untuk menjaga harga di pasaran agar tetap stabil. Kami siap jalankan perintah pusat. Saat ini fokus kami tetap pada penyerapan hasil panen petani,” kata Mustafa. 

Ia menegaskan bahwa Bulog tidak hanya berperan sebagai gudang penyimpanan, tetapi juga sebagai pengendali harga pangan.

“Dengan adanya penyerapan jagung dan beras, diharapkan harga di tingkat konsumen tetap terjangkau,” tutup Mustafa.

Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *