Potret Pasutri Lansia Tinggal di Rumah Reot-‘Kalau Hujan Kami Tidak Bisa Tidur

Kondisi kemiskinan ekstrim masih menghiasi kehidupan masyarakat di Kabupaten Sikka, Propinsi Nusa Tenggara Timur. 

Salah satunya adalah Pidelis Liseng dan Maria Pinteja, pasanganan suami istri lanjut usia warga Dusun Hepang, Desa Nenbura, Kecamatan Doreng. 

Betapa tidak, diusia senja keduanya saat ini harus tinggal di rumah yang sangat sederhana, berdinding anyaman bambu berlantai tanah dengan atap alang-alang yang dahulu menjadi pelindung kini hampir seluruhnya rusak dimakan usia. 

Untuk menghindari terik matahari dan hujan, sebagian atap ilalang yang mulai usah dan berlubang ini terpaksa ditutupi terpal hijau sebagai penahan sementara. 

Namun ketika angin kencang datang, terpal itu terangkat dan robek, membuat air hujan leluasa masuk dari berbagai sisi.

“Kalau hujan deras, kami tidak bisa tidur tenang. Air masuk dari mana-mana. Kami hanya bisa bertahan,” tutur Pidelis dengan mata berkaca-kaca.

Dengan suara pelan karena kondisi kesehatan yang mulai berkurang, ia menceritakan, di dalam rumah yang menjadi tempat berteduh bersama sang istri ini tidak ada ruang yang benar-benar aman dari genangan air saat hujan deras turun, sehingga lantai menjadi basah, dan harus memindahkan perabot saat hujan deras. 

Saat ia mengisahkan kondisi yang dialami, Maria Pinteja sang istri hanya mampu menyeka air mata yang mulai menggenang. Keduanya tampak menahan kesedihan ketika menceritakan kehidupan yang dijalani di rumah yang semakin rapuh.

Maria Pinteja tak banyak berkata. Tatapannya lebih sering tertuju ke atap rumah yang sebagian besar hanya tertutup terpal. Sesekali ia menghela napas panjang, seolah pasrah menghadapi kenyataan yang terus berulang setiap musim hujan.

“Inilah kondisi kami, sudah sering kali rumah ini rusak. Namun mau bagaimana lagi, kondisi bapa sakit-sakitan sehingga tidak bisa memperbaiki rumah ini,” ucap Maria. 

Kini, dibalik kondisi rumah yang sudah mengalami kerusakan pada bagian atap, dinding, serta rangka penyangga yang mulai rapuh, keduanya hanya bisa pasrah. 

Semoga ada hati yang terketuk untuk membagi kasih dengan kondisi yang dialami kedua pasutri lansia ini, agar di usia senja keduanya memiliki rasa aman di rumah yang benar-benar pantas disebut sebagai tempat berlindung.*

Penulis: Tata Shinto | Editor: Sutomo Hurint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *