Pemulihan Ekonomi, Huntap dan Lambatnya Bantuan Beras Bagi Penyintas Korban Erupsi Gunung Lewotobi di Flores Timur

Penyintas Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki sedang menjemur jagung

Sejak November 2024, Gunung Lewotobi Laki-laki tak pernah berhenti erupsi baik dalam skala kecil hingga besar. Kini, denyut kehidupan warga penyintas belum pulih.

Setiap kali Gunung Lewotobi Laki-laki memuntahkan lava dari perut bumi dan tiap kali langit musim penghujan menumpahkan airnya, mereka mengerti bahwa kecil harapan mengantungkan hidup pada hasil kebun di kampung halamannya. 

Rabu, 13 Mei 2026 siang, Veronika Gelu Watun (43) warga Dusun I, Desa Dulipali, Kecamatan Wulanggitang duduk di depan kamar Hunian Sementara (Huntara) yang ditempatinya.

Sesekali matanya memandang pada jagung yang dijemur di halaman depan, persis pada lorong, jalan masuk kendaraan di Huntara I. 

“Jagung ini baru-baru kami panen dapat dua karung saja. Hasilnya, tak banyak karena ada hama tikus,” cerita Veronika. 

Bertahan Hidup

Tak hanya kehilangan rumah, Veronika juga kehilangan mata pencarian. Lahan pertanian jangka pendek, hancur dan belum bisa dipulihkan.

Perkebunan mete, kelapa dan kemiri, tanaman jangka panjang untuk menabung hangus terbakar bersama lava panas semburan gunung api Lewotobi Laki-laki.

“Mete sebelum erupsi itu, walaupun bunganya hangus, kita masih bisa panen sedikit. Namun, sesudah erupsi ini sama sekali kosong. Tidak ada yang bisa kita panen. Hangus, gosong, mati habis semua,” ungkap Veronika.

Demikian juga, dengan tanaman kelapa dan kemiri. Layu dan tak produktif dihujani debu vulkanik.

Penderitaan Veronika dan para penyintas erupsi gunung Lewotobi Laki-laki tak berhenti disitu. Buah kelapa dan kemiri, juga jadi korban aksi pencurian.

“Kemiri itu, kami bisa panen dua hingga 3 karung sebelum erupsi. Tapi, sesudah erupsi ini kurang sekali. Kebanyakan orang curi. Kesana pergi, lihat dapat satu ember saja, pulang lagi. Begitu-begitu saja,” tutur Veronika.

“Kelapa juga sama, kita kesana lihat pohon mudah semua buahnya. Di bawah kosong. Kita pikir ada keluarga yang petik atau orang curi juga kita tidak tau,” tambah dia.

Veronika menuturkan karena lahan pertanian dan perkebunan rusak parah, membuat dirinya untuk memutar otak untuk bertahan hidup.

Ia membuka lahan pertanian dan perkebunan di desa Konga. Lahan tersebut adalah milik keluarga dekatnya.

“Luas lahannya kecil saja. Saya tanam padi, jagung, terung, ubi dan kastela,” kata Veronika.

Veronika mengatakan hasil panen ini, dijual hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Tidak bisa ditabung untuk kebutuhan hidup di masa depan.

“Yang kita jual itu paling, sayur terung, pucuk dan buah Kastela. Jatuhnya, hanya bisa beli beras 2 kilo, beli air, dan ikan, begitu. Untuk tabung itu tidak bisa,” ungkap Veronika.

Veronika menceritakan sumber pendapatan ekonomi kian berkurang semenjak terjadinya erupsi. 

Sebelum erupsi, dirinya bekerja serabutan dengan bekerja di kebun orang untuk mendapatkan upah harian. Pekerjaan ini, kata Veronika tidak bisa ia lakoni pasca erupsi. 

“Dulu tenaga kita sering disewa untuk bersih-bersih kebun. Dari situ, kita bisa dapatkan penghasilan tambahan. Namun, sekarang, tidak bisa. Semua orang sedang susah,” ungkap Veronika.

Kehabisan Beras

Kondisi lebih memprihatinkan dialami Margaretha Hayon (72) penyintas lanjut usia, warga kampung Klantolo.

Sudah 2 tahun, Margaretha hidup sendirian di Huntara I. Keseharian hidupnya, Ia bergantung pada kiriman anaknya yang juga adalah penyintas erupsi yang tinggal secara mandiri di Kota Larantuka karena tugas pekerjaan.

Berlinang air mata, Margaretha menceritakan bahwa beberapa kali Ia mengalami kehabisan beras.

“Beras habis. Jadi, mama minta di keluarga yang juga sesama pengungsi disini,” cerita Margaretha dengan berlinang air mata.

Pemerintah, kata Margaretha bergerak memberikan bantuan jika keluhan para pengungsi ditulis atau viral di media. 

Margaretha menuturkan bahwa baru-baru ini pemerintah memberikan bantuan beras. Namun, kata Margaretha bantuan tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan beras selama 1 bulan. 

“Untuk makan dan minum sehari-hari bergantung pada kiriman anak-anak dari Larantuka. Bantuan beras ini, tak cukup untuk satu bulan,” ungkap Margaretha.

Kondisi usia yang sudah lanjut, Ia berharap agar tim medis dapat melakukan pelayanan kesehatan bagi penyintas.

“Petugas kesehatan itu datang hanya mondar-mandir, bukan periksa tensi atau beri obat. Cuma lihat-lihat lalu pergi,” tutur Margaretha. 

Berharap Hunian Tetap Cepat Dibangun

Margaretha berharap agar pemerintah fokus mempercepat pembangunan Hunian Tetap (Huntap) bagi para penyintas. 

Sebab, kata Margaretha kondisi lingkungan di Huntara sangat tidak nyaman dan dapat berpengaruh terhadap kesehatan. 

“Sangat tidak nyaman tinggal di Huntara. Aliran comberan ini bau dan udaranya pengap sekali,” kata Margaretha.

Hal serupa, juga diungkapkan Vin Boruk warga penyintas asal Desa Dulipali. Ia berharap agar pemerintah bisa cepat bangun Huntap agar pengungsi bisa tinggal dengan aman dan nyaman.

“Kondisi tinggal di Huntara, yah seperti ini. Musim kemarau sangat panas, debu dimana-mana. Musim hujan, air masuk dalam kopel,” ungkap Vin.

“Kita berharap pemerintah cepat bangun huntap, agar kita tinggal dengan nyaman,” harap Vin.

Pemda Flotim Akui Kelemahan 

Pemerintah Kabupaten Flores Timur, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengakui kelemahan yang terjadi.

Ariston Kolot Ola, Sekertaris, sekaligus PLT. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Flores Timur mengakui adanya keterlambatan dalam hal penyaluran beras bagi pengungsi.

Ariston mengatakan adapun alasan dari keterlambatan penyaluran beras ini ditenggarai beberapa hal, salah satunya adanya peralihan pejabat internal di BPBD.

“Alasan karena adanya peralihan jabatan di internal BPBD ini, mau bilang itu juga agak sulit. Karena, itu tidak mungkin. Tapi, nyatanya begitu,” ungkap Ariston.

Alasan lainnya, diungkapkan Ariston adalah dokumen urusan BTT untuk bantuan beras bagi pengungsi Lewotobi belum disiapkan oleh BPBD.

“Urusan BTT Erupsi yang di dalamnya, ketersediaan anggaran untuk bantuan beras bagi saudara-saudara kita yang ada di Huntara, ternyata kita belum siapkan dokumen itu, sampai hari ini,” ungkap Ariston.

Atas beberapa kendala ini, Ariston mengatakan pihaknya butuh waktu beberapa hari, sembari berkoordinasi dengan Dinas Sosial agar mereka lebih cepat untuk membantu para pengungsi yang tinggal di Huntara. 

“Kami mohon maaf karena keterlambatan ini. Kita sedang mempercepat koordinasi untuk bantuan beras kepada saudara kita di Huntara. Mudah-mudahan, dalam satu dua hari ini bantuan beras dapat kita salurkan,” ujar Ariston. *

Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *