{"id":4432,"date":"2026-04-24T02:08:18","date_gmt":"2026-04-24T02:08:18","guid":{"rendered":"https:\/\/kaddes.net\/?p=4432"},"modified":"2026-04-24T05:13:24","modified_gmt":"2026-04-24T05:13:24","slug":"aipi-dan-pakar-global-serukan-pembatasan-makanan-ultra-olahan-lindungi-kesehatan-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kaddes.net\/?p=4432","title":{"rendered":"AIPI dan Pakar Global Serukan Pembatasan Makanan Ultra-Olahan Lindungi Kesehatan Anak"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><b>Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) melalui Komisi Ilmu Kedokteran (KIK), bekerja sama dengan EAT Foundation, FKUI, FK-KMK UGM, GAIN, dan FOLU Indonesia, menyelenggarakan webinar internasional dalam rangka melindungi anak-anak dari ancaman produk pangan ultra proses (Ultra-Processed Foods\/UPF).<\/b><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Webinar Internasional ini bertajuk <i>Eat Real Food and Minimally Processed Diets for Child and Youth Health: Scientific Evidence on Ultra-Processed Foods, Dietary Guideline Alignment, Policy Gaps, and Global Responses.<\/i>&nbsp;<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pertemuan strategis ini mempertemukan ilmuwan dunia, pembuat kebijakan, dan lembaga internasional untuk membahas bukti ilmiah serta aksi kebijakan yang dibutuhkan guna melindungi anak-anak dari transformasi sistem pangan global.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Daniel Murdiyarso, Ketua AIPI mengatakan dalam beberapa dekade terakhir telah terjadi peningkatan ketersediaan dan pemasaran produk UPF yang tinggi gula, garam, dan lemak jahat, namun rendah nutrisi esensial.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cLingkungan pangan global telah berubah dengan cepat. Makanan ultra-olahan kini semakin mudah tersedia, terjangkau, dan dipasarkan secara luas, termasuk kepada anak-anak,\u201d sebut Daniel, dalam webinar Internasional yang dilaksanakan secara daring pada Kamis, 23 April 2026.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Daniel mengungkapkan konsumsi tinggi UPF terbukti secara ilmiah berkaitan erat dengan risiko obesitas pada anak, kekurangan mikronutrien, gangguan metabolik, hingga penyakit tidak menular (PTM) pada usia dini.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Perubahan sistem pangan global telah mengubah pola konsumsi masyarakat secara signifikan. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat,&#8221; tegas Daniel.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Rina Agustina, anggota KIK AIPI yang juga Komisaris EAT-Lancet, menyatakan bahwa kualitas diet anak kini tidak lagi hanya dinilai dari kandungan gizinya, tetapi juga dari tingkat pengolahannya.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Rina menekankan bahwa pengetahuan saja tidak cukup karena anak-anak hidup dalam lingkungan yang lebih mendukung akses terhadap UPF dibandingkan dengan pilihan sehat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Sebab itu, kebijakan harus mampu membedakan jenis pemrosesan makanan dan memprioritaskan keterjangkauan pangan bergizi,&#8221; tegas Rina.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono dan Deputi Bappenas menegaskan pemerintah dalam melakukan transformasi kebijakan sistem pangan untuk peningkatan kesehatan masyarakat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Hal ini membutuhkan kolaborasi bareng berbagai pihak untuk penyusunan kebijakan berbasis bukti ilmiah,&#8221; ungkap Dante.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dalam sambutan penutup webinar, Herawati Sudoyo, Ketua KIK AIPI&nbsp; menegaskan bahwa menciptakan lingkungan pangan sehat adalah langkah nyata untuk melindungi masa depan generasi Indonesia.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">\u201cJika kita mampu menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat, di mana makanan bergizi mudah diakses dan terjangkau\u2014anak-anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal,\u201d ujar Herawati.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Acara webinar internasional ini menghadirkan pembicara kunci yakni Neha Khandpur dari Wageningen University dan Juan Rivera Dommarco dari National Institute of Public Health Meksiko sekaligus Komisioner EAT-Lancet.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sebagai pembicara kunci, Neha Khandpir memaparkan data global mengenai beban malnutrisi dan pentingnya membatasi makanan yang diproses berlebihan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Webinar ini juga menghadirkan berbagai pakar lintas sektor antara lain: Dian Lenggogeni (Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas), Siti Nadia Tarmizi (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan).<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dina Kania (Pejabat Profesional Nasional untuk Kebijakan dan Legislasi WHO Indonesia), David Colozza (UNICEF Indonesia), Ibnu Budiman (Global Alliance for Improved Nutrition), dan Supra Wimbarti (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia).<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Para pakar ini turut memberikan perspektif yang komprehensif untuk perbaikan sistem pangan anak dan remaja dalam diskusi panel.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Adapun beberapa Butir-butir Penting dan Agenda Kebijakan yang dihasilkan adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><i>Pertama<\/i>, implementasi PP No. 28\/2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Kesehatan: Indonesia memiliki peluang besar melalui regulasi ini untuk memperkuat kebijakan pelabelan gizi pada bagian depan kemasan (front-of-pack labelling) serta pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) secara sistematis.<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><i>Kedua<\/i>, perlindungan Anak dari Pemasaran Agresif: Webinar ini menyoroti urgensi melindungi anak dari paparan pemasaran pangan yang kompleks, terutama di ruang digital dan lingkungan sekolah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><i>Ketiga<\/i>, kebijakan Fiskal dan Cukai: Selain wacana cukai minuman berpemanis (MBDK), para pakar mendorong kebijakan fiskal untuk meningkatkan keterjangkauan pangan sehat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><i>Keempat<\/i>: Promosi &#8220;Isi Piringku&#8221; &amp; Makanan Asli: Mendorong konsumsi makanan asli (real food) berbasis bahan lokal yang segar, sejalan dengan panduan nasional dan kerangka global Planetary Health Diet.*<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><b>Penulis: Sutomo Hurint I Editor: Tata Shinto<\/b><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) melalui Komisi Ilmu Kedokteran (KIK), bekerja sama dengan EAT Foundation, FKUI, FK-KMK UGM, GAIN, dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4433,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0,"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[461,463,465,464,467,466,206,462,469,468],"class_list":["post-4432","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar-dari-desa","tag-akademi-ilmu-pengetahuan-indonesia","tag-eat-foundation","tag-fk-kmk-ugm","tag-fkui","tag-folu-indonesia","tag-gain","tag-kaddesnet","tag-komisi-ilmu-kedokteran","tag-lindungi-kesehatan-anak","tag-ultra-processed-foods"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4432","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4432"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4432\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4441,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4432\/revisions\/4441"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4433"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4432"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4432"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4432"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}