{"id":3973,"date":"2026-03-17T04:37:56","date_gmt":"2026-03-17T04:37:56","guid":{"rendered":"https:\/\/kaddes.net\/?p=3973"},"modified":"2026-03-17T04:47:21","modified_gmt":"2026-03-17T04:47:21","slug":"monika-mengabdi-di-pedalaman-flores-timur-upah-honor-kadang-minus-jalan-tiga-kilo-untuk-bisa-ikut-anbk","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kaddes.net\/?p=3973","title":{"rendered":"Monika Mengabdi di Pedalaman Flores Timur&#8211;Upah Guru Honor Kadang Minus, Jalan Tiga Kilo untuk Bisa Ikut ANBK"},"content":{"rendered":"<p><strong>Nasib guru hingga kini masih terus berada dalam kegelapan.<\/strong><\/p>\n<p>Ini dialami Monika Idel Fonsa Lewar (40), guru honorer SDK Kokang, di Desa Ojandetun, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).<\/p>\n<p>Betapa tidak, kesejahteraan Monika sebagai pelita dalam kegelapan bagi generasi muda bangsa di pelosok selatan Flores Timur sungguh jauh dari harapan.&nbsp;<\/p>\n<p>Setiap bulan, Monika Lewar mendapatkan upah Rp. 700.000,- dari hasil iuran komite. Ini masih jauh dari upah minimum yang ditetapkan pemerintah daerah.&nbsp;<\/p>\n<p>Guna memenuhi kebutuhan keluarga, selepas jam mengajar ia langsung bergegas ke kebun membantu suaminya, Aventinus Benediktus (38)&#8211;menyiangi rumput di antara tanaman padi dan jagung yang kian subur.&nbsp;<\/p>\n<p>Monika Lewar berjalan kaki ke kebun sejauh kurang lebih 800 meter dari rumahnya di Desa Ojandetun. Rutin setiap hari.<\/p>\n<p>&#8220;Rutinitas saya setelah pulang sekolah selalu ke kebun. Di kebun itu, kami tanam padi dan jagung,&#8221; katanya usai menyiangi rumput di kebun, Jumat pekan lalu.<\/p>\n<p>Kebun yang dikerjakan Monika Lewar bersama suami bukan milik mereka. Namun milik Petrus Bapa, salah satu orang tua murid di sekolah tempatnya mengabdi.<\/p>\n<p>&#8220;Hasil yang kami tanam untuk makan di rumah. Pemilik kebun tidak minta bagi hasil, kami diberi kesediaan untuk garap,&#8221; ungkapnya.<\/p>\n<p>Monika Lewar mengisahkan, sudah 15 tahun mengabdi sebagai guru di sekolah yang berdiri sejak 1 Januari 1971 silam. Sementara Aventinus mengais rejeki dengan berkebun dan pekerja serabutan.<\/p>\n<p>Hasil keringat suami dalam bertani dengan hasil enam karung beras saat panen dimanfaatkan seutuhnya untuk menanggung empat anggota keluarga di rumah mereka yang sederhana, selain dikirim ke putrinya di Maumere.<\/p>\n<p>&#8220;Upah honor guru yang kadang minus, saya gunakan untuk biaya pendidikan putri sulung kami di SMAS Bhaktyarsa Maumere, dan juga untuk dua anak yang masih SD,&#8221; ungkapnya.&nbsp;<\/p>\n<p>Jika anak banyak tugas sekolah dan biaya tak terduga lainnya, ibu tiga anak itu terpaksa harus meminjam uang ke kerabat.&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Saat uang tidak ada sama sekali, saya minta pengertian dan mohon sedikit waktu. Anak saya paham dengan kondisi kami. Tetapi rejeki itu Tuhan sudah atur, jadi ada saja jalannya,&#8221; ucap Monika Lewar.<\/p>\n<p>Menjadi guru honor di SDK Kokang dengan upah rendah, sempat membuatnya berpikir pindah ke sekolah negeri demi sebuah peluang yang lebih terbuka menjadi pengabdi yang dijamin negara.<\/p>\n<p>Namun ia mempunyai dedikasi dan loyalitas yang kuat untuk SDK Kokang. Dia berat hati dan rasa meninggalkan sekolah tua di pelosok selatan yang jauh dari hiruk pikuk keramaian itu.<\/p>\n<p>Sebagai seorang guru honor, Monika Lewar mengaku sangat bahagia melihat senyum anak didiknya di bangku sekolah yang kian termakan rayap.&nbsp;<\/p>\n<p>Banyak anak berhasil ia didik menjadi biarawati, guru, pegawai pemerintah, dan pekerja swasta.<\/p>\n<p>&#8220;Anak-anak di sini (SDK Kokang) adalah putra dan putri yang lahir dari kampung sendiri, ada kebahagiaan murni dari dalam hati untuk terus mengabdi,&#8221; kata Monika Lewar.<\/p>\n<p>Ditengah aktivitas sebagai petani, Monika Lewar pun mencurahkan isi hati kondisi warga SDK Kokang yang sudah bersahabat dengan ketiadaan signal telekomunikasi hingga saat ini.&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Di desa Kami, sumber jaringan terdekat hanya lewat Kantor Desa Ojandetun. Ketika ramai pengguna, kekuatan signal redup bahkan hilang total,&#8221; kisahnya.&nbsp;<\/p>\n<p>Ketiadaan signal ini, papar Monika Lewar, menjadi kendala bagi para siswa khususnya saat kegiatan Asesemen Nasional Berbasis Komputer (ANBK). Sangat terganggu.&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Untuk bisa ikut ANBK, anak-anak harus menempuh perjalanan 3 kilometer ke Desa Hewa agar mendapat jaringan,&#8221; paparnya.&nbsp;<\/p>\n<p>Monika Lewar mengaku kondisi signal berangsur membaik saat Dinas Kominfo Flores Timur membantu satu unit wifi untuk SDK Kokang.&nbsp;<\/p>\n<p>Namun kapasitasnya diklaim belum cukup kuat untuk diakses perangkat android terutama 15 chromebook bantuan Pemerintah Pusat.<\/p>\n<p>&#8220;Di sini letak kesulitan kami, tetapi kami punya semangat yang besar. Kami biasa ke Hewa, desa tetangga,&#8221; ceritanya.<\/p>\n<p>Monika Lewar dan warga sekolah sejatinya punya impian besar terhadap peningkatan sarana prasarana untuk dinikmati 75 siswa, termasuk kesejahteraan bagi 9 tenaga pendidik.<\/p>\n<p>SDK Kokang adalah salah satu dari sekian sekolah di bawah Yayasan Persekolahan Umat Katolik Keuskupan Larantuka (Yapersuktim). Yapersuktim memberikan peran penting dalam urusan legalitas sekolah untuk perjalanan sekolah itu sendiri.<\/p>\n<p>Kepsek SDK Kokang, Yohanes Wato Ipir menyebut Monika Lewar adalah guru yang loyal dan total mengajar. Apresiasi juga ia alamatkan untuk segenap tenaga pendidik di sekolah itu.<\/p>\n<p>&#8220;Di sini ada enam tenaga pendidik selain ibu Monika, kemudian tenaga kependidikan ada dua orang,&#8221; katanya.<\/p>\n<p>Selain keadilan untuk kesejahteraan guru, siswa dan warga desa di sana juga mengalami ketimpangan jaringan signal. Proses KBM berbasis online tak berjalan maksimal. *<\/p>\n<p><strong>Penulis: Tata Shinto<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nasib guru hingga kini masih terus berada dalam kegelapan. Ini dialami Monika Idel Fonsa Lewar (40), guru honorer SDK Kokang,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3974,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0,"footnotes":""},"categories":[36,7],"tags":[307,43,306,45,76,48],"class_list":["post-3973","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar-dari-desa","category-orang-desa","tag-anbk","tag-flores-timur","tag-guru-honor","tag-kaddes-net","tag-larantuka","tag-ntt"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3973","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3973"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3973\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3979,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3973\/revisions\/3979"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3974"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3973"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3973"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3973"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}