{"id":3945,"date":"2026-03-14T08:53:17","date_gmt":"2026-03-14T08:53:17","guid":{"rendered":"https:\/\/kaddes.net\/?p=3945"},"modified":"2026-03-14T09:45:46","modified_gmt":"2026-03-14T09:45:46","slug":"provinsi-ntt-suplai-2-053-kasus-tindak-pidana-perdagangan-orang-terbesar-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kaddes.net\/?p=3945","title":{"rendered":"Provinsi NTT Suplai 2.053 Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang, Terbesar di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menimpa Pekerja Migran Indonesia (PMI) kian meningkat dari tahun ke tahun sejak tahun 2019.<\/strong><\/p>\n<p dir=\"ltr\">Diantara 38 Daerah Provinsi di Indonesia, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi penyumbang terbesar pekerja migran ilegal ke luar negeri.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Para pekerja mengalami penipuan, eksploitasi, hingga kekerasan berujung pada kematian ketika menjadi korban perdagangan orang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Diantaranya, perempuan dan anak-anak menjadi korban eksploitasi dan kerja paksa baik di dalam maupun luar negeri.<\/p>\n<h3 dir=\"ltr\"><b>2.053 Kasus Perdagangan Orang<\/b><\/h3>\n<p dir=\"ltr\">Dalam kurun waktu 7 tahun dari 2019 hingga tahun 2025, terdapat sebanyak 2.058 warga asal NTT yang menjadi korban kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Dengan rincian sebagai berikut: pada tahun 2019 ditemukan sebanyak 191 korban. Tahun 2020 kasus TPPO warga asal NTT naik menjadi 382 korban.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Sedangkan, pada tahun 2021 kasus TPPO mengalami peningkatan yang sangat drastis yakni sebanyak 684 orang warga asal NTT yang menjadi korban TPPO.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Pada tahun 2022 ditemukan 120 korban, tahun 2023 terdapat 257 orang, tahun 2024 sebanyak 229 orang dan pada tahun 2025 terdapat 120 warga asal NTT yang jadi korban TPPO.<\/p>\n<h3 dir=\"ltr\"><b>508 Kasus Kematian PMI<\/b><\/h3>\n<p dir=\"ltr\">Dari 2.025 kasus TPPO tersebut, ditemukan pula ratusan PMI asal NTT menjadi korban tewas.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Selama kurun waktu 4 tahun dari 2022 hingga tahun 2025 ditemukan sebanyak 508 orang PMI asal NTT yang tewas.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Adapun rincian korban tersebut antara lain sebagai berikut: pada tahun 2022 sebanyak 106 orang, tahun 2023 ditemukan sebanyak 151 orang, 2024 berjumlah 125 orang dan tahun 2025 sebanyak 126 orang korban yang tewas.<\/p>\n<h3 dir=\"ltr\"><b>Tergiur Gaji Besar<\/b><\/h3>\n<p dir=\"ltr\">Kepala Balai Pelayanan, Perlindungan, Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT Suratmi Mahidah, S. Sos., mengatakan upah yang tinggi menjadi motivasi warga NTT menjadi pekerja migran.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Suratmi mencontohkan soal gaji. Gaji asisten rumah tangga di Malaysia bisa mencapai Rp. 8 juta, sedangkan di Nusa Tenggara Timur, gaji asisten rumah tangga dihargai dengan upah yang rendah, tidak lebih dari Rp. 1 juta.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Tergiur dengan besaran gaji ini mendorong banyak warga NTT menjadi pekerja migran ke luar negeri walaupun dengan cara ilegal.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Selain itu, Suratmi mengatakan alasan lain dari tingginya jumlah pekerja migran dari NTT ke luar negeri adalah faktor adat.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Suratmi menjelaskan beban adat berupa kewajiban yang harus terpenuhi menimbulkan beban utang yang besar.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Hal ini mendorong seseorang untuk menjadi pekerja migran yang menjadi pintu masuk perdagangan orang.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Mau tidak mau korban termakan rayuan sindikat yang memberi iming-iming uang agar bisa membayar utang adat,&#8221; ungkap Suratmi.*<\/p>\n<p dir=\"ltr\"><b>Penulis: Sutomo Hurint <\/b><\/p>\n<p dir=\"ltr\"><i>Sumber Data: Balai Pelayanan, Perlindungan dan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI), Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak<\/i>, <i>Kepolisian Republik Indonesia, Tempo.<\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang menimpa Pekerja Migran Indonesia (PMI) kian meningkat dari tahun ke tahun sejak tahun&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3946,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0,"footnotes":""},"categories":[36,2],"tags":[300,298,299],"class_list":["post-3945","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kabar-dari-desa","category-nusantara","tag-bp3mi-ntt","tag-provinsi-nusa-tenggara-timur","tag-tindak-pidana-perdagangan-orang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3945","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3945"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3945\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3954,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3945\/revisions\/3954"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3946"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3945"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3945"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3945"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}