{"id":3056,"date":"2026-01-22T14:10:46","date_gmt":"2026-01-22T14:10:46","guid":{"rendered":"https:\/\/kaddes.net\/?p=3056"},"modified":"2026-01-23T02:09:33","modified_gmt":"2026-01-23T02:09:33","slug":"masyarakat-lewotala-ternyata-punya-kalender-agraris-tersendiri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kaddes.net\/?p=3056","title":{"rendered":"Masyarakat Lewotala Ternyata Punya Kalender Agraris Tersendiri"},"content":{"rendered":"<p><strong>Masyarakat di Desa Lewotala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mempunyai system kalender tersendiri.<\/strong><\/p>\n<p>Tak seperti dalam kalender Masehi yang didasarkan pada pengitaran bulan mengelilingi bumi, penyebutan nama-nama bulan orang Lewotala mempunyai relasi erat dengan aspek sosio-kultural masyarakat di desa itu.<\/p>\n<p>Adapun keunikan penyebutan dan penggolongan nama-nama bulan dalam system Kalender ini, tersimpan konsep pengetahuan masyarakat lokal khususnya konsep pengetahuan\u00a0 dalam dunia agraris atau system pertanian di desa Lewotala.<\/p>\n<h3><strong>Nama-nama bulan masyarakat di Lewotala\u2026!<\/strong><\/h3>\n<p>Bulan pertama adalah\u00a0\u2018<strong>Wulan Nikat\u2019\u00a0<\/strong>atau bulan menanam. Bulan menanam ini ditandai dengan penghantaran benih padi dari lumbung padi desa yang disebut \u2018Keba\u2019 menuju ke ladang atau kebun adat \u2018Ma Ora\u2019.<\/p>\n<p>Proses penghantaran benih padi ini dimulai dengan upacara atau ritual adat yang diiringi dengan nyanyian yang mengisahkan asal-usul Dewi Padi \u2018Raran Tonu Wujo\u2019.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3057\" aria-describedby=\"caption-attachment-3057\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-3057\" src=\"https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_215035-1-300x172.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"172\" srcset=\"https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_215035-1-300x172.jpg 300w, https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_215035-1-1024x588.jpg 1024w, https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_215035-1-768x441.jpg 768w, https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_215035-1.jpg 1427w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3057\" class=\"wp-caption-text\"><em>Tetua adat Desa Bantala sedang melakukan ritus adat penghormatan terhadap &#8220;Nogo Gunung Ema Hingi&#8221; atau Dewi Padi di Kebun Adat. (Foto: Dok.Kaddes.net).<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Dalam bulan ini banyak sekali larangan atau pantangan bagi warga Desa Lewotala. Pantangan itu antara lain, tidak boleh membuat keributan (acara pesta, bunyi-bunyian, perkelahian, dll), tidak boleh melaut dan larangan membunuh hewan-hewan tertentu, seperti anjing.<\/p>\n<p>Bagi warga yang melanggar pantangan ini, perlu dilakukan seremoni adat sebagai sarana pemulihan. Pantangan ataupun larangan ini berlaku dalam waktu yang panjang hingga memasuki masa panen.<\/p>\n<p>Bulan yang kedua adalah\u00a0<strong>Wulan Ga Taken\u00a0<\/strong>yang secara harfiah berarti \u2018Bulan Tidak Makan\u2019. Sesuai penyebutannya, dahulu masyarakat Lewotala mengalami masa krisis pangan. Yang mana mereka makan seadanya dengan umbi-umbian dan pangan lokal.<\/p>\n<p>Masa krisis ini dipengaruhi oleh angin kencang atau badai yang menerjang daerah Lewotala. Bulan ini masuk dalam bulan Februari jika dikaitkan dengan sistem kalender Masehi.<\/p>\n<p>Pada bulan ini, masyarakat petani dilarang untuk menanam. Dan jika dilanggar, kebun yang ditanami padi pada bulan ini akan mengalami gagal panen.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3059\" aria-describedby=\"caption-attachment-3059\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-3059\" src=\"https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_215056-1-300x177.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"177\" srcset=\"https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_215056-1-300x177.jpg 300w, https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_215056-1-1024x605.jpg 1024w, https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_215056-1-768x454.jpg 768w, https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_215056-1.jpg 1522w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3059\" class=\"wp-caption-text\"><em>Tetua adat Desa Bantala sedang melakukan ritus adat penghormatan terhadap &#8220;Nogo Gunung Ema Hingi&#8221; atau Dewi Padi di Kebun Adat. (Foto: Dok.Kaddes.net).<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Bulan yang ketiga adalah\u00a0<strong>Wulan Matun<\/strong>. Secara harfiah, berarti \u2018Bulan Rumput\u2019. Bulan ini adalah bulan yang digunakan untuk membersihkan rumput di kebun ataupun ladang, setelah melewati masa hujan dan badai yang tak kunjung henti.<\/p>\n<p>Bulan ini ditutupi dengan upacara\u00a0Pau Pusaka\u00a0atau\u00a0Pau Kaka Bapa\u00a0di rumah besar milik Kepala Suku. Dalam upacara ini, anak-anak dan orang tua wajib berkumpul di rumah besar sukunya masing-masing.<\/p>\n<p>Upacara ini merupakan ucapan syukur setelah melewati badai dan memohon berkat berlimpah untuk hasil panen dari \u2018Rera Wulan Tanah Ekan\u2019 beserta para leluhur untuk berkat terhadap hidup dan panen.<\/p>\n<p>Adapun kemiri dalam upacara\u00a0Pau Pusaka\u00a0ini dipakai pada keesokan harinya untuk dioleskan pada daun padi di setiap kebun warga. Bulan ini dalam kalender Masehi berkisar sekitar Februari hingga Maret.<\/p>\n<p>Bulan keempat adalah\u00a0<strong>Wulan Nalan<\/strong>\u00a0yang secara harfiah berarti \u2018Bulan Dosa\u2019. Sesuai namanya, pada bulan ini warga dilarang membawa pulang hasil kebun atau ladang \u2018Labu dan Jagung Mudah\u2019 ke rumah.<\/p>\n<p>Jika ada warga yang melanggar pantangan ini, dia harus melakukan ritual pemulihan sebagai silih terhadap kesalahan yang telah dilakukannya dengan memotong seekor kambing dan babi di kebun miliknya. Bulan ini terjadi sekitar bulan April dalam kalender Masehi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_3061\" aria-describedby=\"caption-attachment-3061\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-3061\" src=\"https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_214934-300x175.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"175\" srcset=\"https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_214934-300x175.jpg 300w, https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_214934-1024x596.jpg 1024w, https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_214934-768x447.jpg 768w, https:\/\/kaddes.net\/wp-content\/uploads\/2026\/01\/IMG_20260122_214934.jpg 1235w\" sizes=\"auto, (max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3061\" class=\"wp-caption-text\"><em>Tetua adat Desa Bantala sedang melakukan ritus adat penghormatan terhadap &#8220;Nogo Gunung Ema Hingi&#8221; atau Dewi Padi di Kebun Adat. (Foto: Dok.Kaddes.net).<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p>Bulan kelima adalah\u00a0<strong>Wulan Muren.<\/strong> Secara harfiah, berarti \u2018Bulan Benar\u2019. Pada bulan ini, warga sudah diperbolehkan membawa pulang hasil kebun atau ladang secara terbuka.<br \/>\nWarga diwajibkan membuat pondok di kebun masing-masing untuk persiapan menampung hasil panen.<\/p>\n<p>Bulan ini ditandai dengan upacara adat di kebun adat. Upacara ini dinamai dengan upacara Kerja. Setelah upacara ini, warga diperbolehkan membawa hasil panen ke rumah masing-masing.<\/p>\n<p>Bulan keenam, yakni\u00a0<strong>Wulan Kolin Wain\u00a0<\/strong>dan memiliki arti \u2018Bulan Panen\u2019. Pada bulan ini, warga dapat mulai memanen padi di ladangnya masing-masing. Masyarakat Desa Lewotala melakukan ritual besar-besaran di kebun adat sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Upacara ini disebut upacara \u2018Haman Man\u2019.<\/p>\n<p>Upacara \u2018Haman Ma\u2019 ini sebagai tanda berhentinya bulan \u2018Kolin Wain\u2019 atau bulan panen. Bulan ini kira-kira berlangsung pada bulan Mei dalam perhitungan kalender Masehi. Orang yang lahir pada bulan ini diyakini hidupnya akan baik.<\/p>\n<p>Bulan ketujuh disebut\u00a0<strong>Wulan Tanah Maran.<\/strong> Secara harfiah, berarti \u2018Bulan Tanah Kering\u2019. Pada bulan-bulan ini, permukaan tanah pecah-pecah pertanda memasuki musim kemarau. Bulan ini berlangsung selama 2 kali. Kira-kira dari bulan Juni hingga Juli.<\/p>\n<p>Bulan kedelapan adalah\u00a0<strong>Wulan Lera Kakan<\/strong>\u00a0yang secara harfiah berarti \u2018Bulan Kakak Matahari\u2019. Sesuai namanya, bulan ini adalah puncak dari musim kemarau yang mana matahari terasa sangat panas.<\/p>\n<p>Hal ini berlangsung cukup lama, kira-kira memakan waktu 2 hingga 3 bulan dalam penanggalan kalender Masehi. Kira-kira dari bulan Agustus.<\/p>\n<p><strong>Wulan Hiwan.<\/strong> Secara harfiah, berarti \u2018Bulan Sembilan\u2019 yang merupakan bulan persiapan membuka ladang atau kebun baru. Pada bulan ini, warga mulai mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk membuka lahan atau ladang baru dan peralatan berburu.<\/p>\n<p>Lalu ada juga\u00a0<strong>Wulan Piton<\/strong> atau \u2018Bulan Tujuh\u2019. Bulan ini adalah kelanjutan dari bulan sebelumnya. Setelah alat dan bahan disiapkan, persiapan lahan dimulai dengan memotong pohon dan membersihkan rumput di lahan garapan baru yang disebut \u2018Geto Eta\u2019.<\/p>\n<p>Ada juga\u00a0<strong>Wulan Lema.<\/strong> Secara harafiah berarti \u2018Bulan Lima\u2019. Pada bulan ini, warga membakar kayu dan rumput di ladang baru. Kegiatan membakar kayu dan rumput di ladang ini disebut \u2018Seru Eta\u2019.<\/p>\n<p>Lalu,\u00a0Wulan Telon\u00a0yang secara harfiah, berarti \u2018Bulan Tiga\u2019. Bulan ini digunakan untuk membersihkan rumput dan puntung-puntung kayu dan membuat terasering di ladang. Tahap terakhir persiapan lahan untuk menanam.<\/p>\n<p>Dari uraian tentang penyebutan nama-nama bulan ini, terbaca bahwa bentuk penamaan bulan oleh masyarakat tradisional Desa Lewotala mengikuti siklus dunia pertanian.<\/p>\n<p>Hal ini dapat dilihat dari nama-nama bulan, antara lain \u2018Wulan Nikat\u2019 (Bulan Menanam); Wulan Matun \u2018Bulan Rumput\u2019; \u2018Wulan Kolin Wain\u2019 (Bulan Panen); \u2018Wulan Hiwan\u2019 (Bulan Sembilan); \u2018Wulan Pito\u2019 (Bulan Tujuh); \u2018Wulan Lema\u2019 (Bulan Lima); dan \u2018Wulan Telo\u2019 (Bulan Tiga).<\/p>\n<p>Juga \u2018Wulan Tanah Maran\u2019 dan \u2018Wulan Lera Kakan\u2019 yang menggambarkan situasi yang dirasakan oleh masyarakat setempat akibat musim kemarau.<\/p>\n<p>Pantangan mengenai hal yang tabu dan yang boleh dilakukan pada \u2018Wulan Nalan\u2019 dan \u2018Wulan Muren\u2019 merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat dalam rangka menjaga keselamatan hidup dan keharmonisan\u00a0sesama sebagai suatu paguyuban. * (<strong>Tim Redaksi<\/strong>).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masyarakat di Desa Lewotala, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mempunyai system kalender tersendiri. Tak seperti dalam&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3062,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"ngg_post_thumbnail":0,"footnotes":""},"categories":[34],"tags":[43,52,45],"class_list":["post-3056","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cerita-budaya","tag-flores-timur","tag-kabupaten-flores-timur","tag-kaddes-net"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3056","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3056"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3056\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3089,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3056\/revisions\/3089"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3062"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3056"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3056"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kaddes.net\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3056"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}